Archive for Perwalian

MENGAPA UNTUK MENGISI KRS DIPERLUKAN KHS?

Pertanyaan ini dikirimkan via SMS ke HP Suami saya oleh salah seorang mahasiswa tanpa mencantumkan identitas dirinya. Mengapa musti pake KHS? di jurusan laen nggak pake KHS kok bisa? Mengapa kok Bu Dyah nggak bisa?

Jujur aja, saya males menjawabnya, karena:

  1. Ybs nggak berani tanya langsung ke saya.
  2. Ybs ini pasti nggak pernah ikut PAKEM (Kalo nggak tau PAKEM, itu lho kegiatan orientasi perkenalan mahasiswa dengan kampus). Karena di PAKEM, pasti sudah dijelaskan oleh Kajur / Sekjur. Atau, kalo memang dia ikut PAKEM, dia mesti nggak merhatiin waktu diterangin soal aturan maen pengisian KRS.
  3. Ybs mesti nggak punya buku pedoman yang pastinya dibagikan ke seluruh mahasiswa baru. (Kalo nggak tau buku pedoman, itu yang isinya daftar nama pejabat, dosen & karyawan, termasuk satpamnya kampus, yang ada aturan pengisian KRS.) Atau kalo memang punya buku pedoman, pasti bagian yang ada aturan pengisian KRS, nggak pernah dibaca.

Tapi biar semua yang baca tau… Nggak pa pa, deh saya jelasin.

Kuliah di perguruan tinggi (PT) itu nggak sama dengan waktu anda di SMA. Di SMA, nilai anda baik atau buruk, anda tetap bisa mengambil semua mata pelajaran di tingkatan berikutnya. Anda dinyatakan lulus jika anda sudah menempuh semua tingkatan/kelas yang ada di bangku SMA, dan nilai anda secara keseluruhan dinyatakan baik, tanpa mempedulikan apakah ada nilai yang buruk asalkan secara keseluruhan baik, maka anda lulus.

Tapi di bangku kuliah, berbeda… Anda dinyatakan lulus jika salah satu syaratnya adalah sudah menempuh semua SKS (Satuan Kredit Semester) yang sudah ditentukan, dengan IPK minimal 2, tanpa nilai E dan maksimum 2 nilai D.

Lihat kata yang bercetak tebal… Do you see the big difference? Atau masih nggak mudeng juga? Oke, lanjut…

Mengapa di PT pake SKS, bukan kelas seperti di jenjang SMA atau SMP atau SD? Karena, di PT anda sudah tidak mencari ilmu menengah atau dasar, anda memilih berdasarkan keahlian yang akan anda dapatkan setelah anda lulus. Jadi anda harus benar-benar dinyatakan lulus untuk tiap mata kuliahnya, karena itu berkaitan dengan keahlian yang akan anda peroleh.

Itulah sebabnya mengapa pada saat di perguruan tinggi, ada orang yang bisa lulus dalam waktu empat tahun, ada yang lebih dari lima tahun. Karena kemampuan setiap orang berbeda-beda dalam menempuh keseluruhan SKS. Nah, kemampuan yang sudah terukur ini tiap akhir semester disajikan dalam bentuk KHS (Kartu Hasil Studi). Pada saat semester I, semua dipatok sama, karena kami belum bisa mengukur kemampuan anda. Tapi setelah hasil KHS semester I keluar, kami mengukur berdasarkan KHS tersebut. Makanya di KHS tertera tulisan JUMLAH MAKSIMAL SKS YANG BOLEH DIAMBIL PADA SEMESTER BERIKUTNYA.

Yang nilainya tinggi, boleh mengambil SKS maksimum, yaitu 24. Sedangkan yang nilainya rendah, otomatis hanya boleh mengambil SKS sedikit, bisa maksimal 18, 20, atau 22. Tujuannya apa? Anda diberi kesempatan memperbaiki diri, agar lebih fokus belajar dan semester yang akan datang, nilai anda bisa meningkat dan ambil SKS dalam jumlah yang lebih banyak. Kalo anda bisa mempertahankan nilai anda yang baik, anda bisa mengambil dalam jumlah banyak terus. Tapi kalo tidak, ya… ikuti aturan mainnya.

Tapi, Bu… saya merasa bisa mengerjakan, tetap dapat nilai jelek… atau… waktu ujian final, saya ada tugas kantor di luar kota, saya / anak saya sakit, dsb…

Kalo anda merasa bisa mengerjakan tapi dapat nilai jelek, saya beritahu sesuatu: Kuliah tidak hanya berkisar di masalah akademis saja, tapi banyak hal. Salah satunya: komunikasikan keluhan anda dengan santun ke dosen pengampu, kenali tipikal beliaunya.

Bagaimana dengan tugas kantor, Bu? Masalah ini adalah konsekuensi logis yang harus anda terima pada saat anda memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Jadi silakan anda bertanya dengan dosen manapun, anda akan mendapatkan jawaban: “Itu sudah risiko”. Jadi kembali ke pernyataan saya yang sebelumnya, kuliah tidak hanya berkisar di masalah akademis, anda juga harus pandai mengelola waktu. Kalo anda belum bisa mengelola waktu dengan baik, kemudian berimbas pada ujian entah mid entah final yang harus mundur atau bahkan tidak bisa anda ikuti, dan berimbas lagi pada nilai yang rendah, dan berimbas lagi pada SKS yang sedikit… Artinya… anda diberikan kesempatan untuk mengelola waktu lebih baik. Kalo SKSnya sedikit ‘kan berarti beban anda tidak seberat biasanya.

Tapi saya ingin cepat lulus, Bu… So, what? You’ve gotta work twice smarter and twice harder. Berarti anda harus kerja lebih cerdik dan lebih keras lagi.

Gimana dengan saya / anak saya sakit? Still it’s no excuse to get more credits. Itu juga bukan alesan buat minta extra SKS… Berarti kesehatan anda nggak memungkinkan anda untuk ngambil SKS dalam jumlah banyak. Lha wong segitu aja, anda sakit (bisa saja ‘kan karena kecapekan), apalagi nanti kalo harus ambil banyak.

So, please, deh… tugas dosen wali tidak hanyak tanda tangan di KHS & KRS anda, tapi ada fungsi-fungsi lain, salah satunya mengoptimalkan kemampuan anda, agar anda bisa dapet nilai dan otomatis skill & knowledge yang memadai. Salah satu alat bantu saya ya… KHS itu…

Jadi bagaimana dengan dosen lain yang tidak menggunakan KHS, boleh langsung ngisi KRS? Ya, silakan saja. Saya hanya mengikuti aturan main yang ada. Di perguruan tinggi manapun, saya rasa aturannya sama. Kalo memang KHS dan jumlah SKS bukan sesuatu yang penting, tentunya pihak kampus sudah meniadakan prosedur perwalian ini. Dan tidak perlu pencantuman tulisan: Jumlah maksimum SKS yang boleh diambil pada semester berikutnya. Dan tidak perlu ada kolom IP sebelumnya di blanko KRS. (Dan saya akan senang sekali, karena nggak perlu repot tanda tangan dan melakukan pengarsipan kinerja mahasiswa perwalian saya yang jumlahnya ratusan dan bikin capek itu)

Bahkan di luar negeri (ini cerita dari salah seorang mahasiswa saya yang sekarang kuliah di AS), mahasiswa yang kerja, itu tidak boleh ambil credits (SKS) banyak. maksimum SKS yang diambil adalah 18 SKS dan status mereka harus diubah dari full time students menjadi part time students. Dan mereka juga sadar diri dan bisa mengukur kemampuan. Kalo dirasa kerjanya berat, mereka paling ambil 12 SKS. Memangnya di Amrik ada perwalian juga, Bu? Ada, namanya Academic Counselling. Dosen wali disebut dengan Academic Counsellor.

Tapi ini kan Indonesia, Bu. Dan saya pengen cepet selesai, Bu… nggak peduli nilai saya berapa, saya pengennya ambil 24 SKS terus. Anda mungkin nggak peduli. Tapi saya peduli. Karena kalo output yang dihasilkan oleh kampus kita bagus, akan berimbas secara tidak langsung ke ke saya. Tapi itu kan bukan urusan saya, Bu. Oke, kalo begitu satu-satunya solusi: SILAKAN CARI DOSEN WALI LAIN.

Iklan

Comments (2)

Perwalian Kelas Sore dan Weekend

Setelah KHS jadi pada hari Jumat sekitar jam 10-an kemaren, akhirnya KRS-an berhasil diselenggarakan. Alhamdulillaah. Meski demikian, masih ada beberapa mahasiswa yang belum melakukan konsultasi dan pengisian KRS. Untuk itu saya masih menyelenggarakan konsultasi & perwalian KRS:

SABTU, 29 AGUSTUS 2009

PUKUL 15.00 – 17.00

DI RUANG DOSEN LANTAI III

Bagi yang belum, silakan segera memanfaatkan kesempatan ini, atau anda akan di – cuti paksa – kan oleh kampus. Ih, serem amat, Bu… Emang serem, aturan yang baru emang kalo anda telat ngisi KRS, anda akan kena sanksi tersebut. Jadi, cepetan, ya…

Tinggalkan sebuah Komentar

Bener nggak seh, Bu Dyah nggak mau ditemuin di rumah?

Jawabannya: Salah besar!

Lho, Bu.. tapi waktu saya ke rumah mo minta waktu perwalian sama ngisi KRS di rumah, kok nggak dilayani sama Bu Dyah?

Saya bersedia melayani perwalian / ngisi KRS di rumah, dengan catatan, 18 SKS tok, mau?

Kenapa  kok cuman 18 SKS, Bu? ‘Kan nilai saya bagus, saya berhak mendapatkan lebih.

Mahasiswa saya banyak. Jujur, saya nggak hafal nilai anda satu per satu. Yang saya andalkan adalah KHS dari kampus. Dari KHS saya bisa melihat nilai anda dan menentukan jumlah SKS yang tepat untuk anda. Dan KHS ini tidak saya simpan di rumah, melainkan di loker ruangan saya, di kampus atmo, lantai III.

Saya ambilkan wis Bu, KHSnya.

Emangnya saya sudah gila, mempercayakan kunci ruangan saya dan loker saya, untuk kemudian anda mengambil sendiri KHS anda dan lain-lain di situ? Kalo ada barang ilang, emangnya anda berani nanggung. Bukan hanya barang saya, tapi bisa saja barangnya Bu Dewi, Bu Indu atau Pak Teguh.

Tapi ‘kan nyari Bu Dyah / janjian lagi kan susah, Bu? Baca postingan saya yang ini.

Kalo sekedar minta tanda tangan aja, bukan perwalian / ngisi KRS, insya Allah bisa saya lakukan juga di rumah. Lagian, sudah dikasih jadwal, masih nyleneh juga, bikin jadwal pengisian KRS sendiri. Phew… capede…

Tinggalkan sebuah Komentar

Perwalian Batal Tambah Kelas Sore / Weekend

Alhamdulillaah… Akhirnya KHS sudah selesai dialokasikan. Hari ini rencananya mau didistribusikan ke para dosen. Jadi, yang belum perwalian, bisa segera perwalian. Sedangkan yang sudah perwalian, bisa melakukan perwalian batal tambah. Nah, agar memudahkan bagi anda dan saya, maka saya bikin jadwal buat anda biar gampang ketemu saya, saya tunggu hari:

  • Kamis, tanggal 19 Maret 2009 pukul 13.00 – 15.00
  • Jumat, tanggal 20 Maret 2009 pukul 10.00 – 12.00

Waduh, Bu… kalo saya nggak bisa gimana? Titipkan temannya yang bisa. Oke, saya tunggu!!!

Comments (2)

Saya Seneng Kalo Ada yang Ngasih Bingkisan, Tapi…

Jujur aja, saya seneng kalo ada mahasiswa ngasih saya bingkisan. (Gendeng po piye, dike’i bingkisan hadiah kok rak seneng?!) Tapi… Nah, ada tapinya…  kalo bingkisan itu diberikan selama saya masih berstatus sebagai dosen wali, dosen pengampu atau dosen pembimbing anda, kesannya jadi nggak etis. Lho kok nggak etis gimana to, Bu?

Misalnya… saya masih menjadi dosen wali anda, lalu anda ngasih bingkisan ke saya. Seharusnya saya ngasih anda 21 SKS, tapi karena saya nggak enak sama anda yang sudah ngasih bingkisan, akhirnya saya naikkan jadi 24 SKS. Kalo saya nggak naikkan jumlah SKSnya, anda (mungkin) nggrundel (dalam hati), jadinya nggak ikhlas. Akhirnya bingkisan tersebut sifatnya jadi tidak halal untuk dikonsumsi.

Atau… saya masih jadi dosen pengampu anda, lalu anda ngasih bingkisan ke saya. Seharusnya saya ngasih anda C, tapi karena saya nggak enak sama anda yang sudah ngasih bingkisan, akhirnya saya naikkan jadi B. Kalo saya nggak naikkan nilainya, anda (mungkin) ngedumel (dalam hati), jadinya nggak rela. Akhirnya bingkisan tersebut sifatnya jadi tidak halal untuk dikonsumsi.

Bisa juga seperti ini… saya masih jadi dosen pembimbing anda, lalu anda ngasih bingkisan ke saya. Seharusnya saya tidak meloloskan proposal anda, tapi karena saya nggak enak sama anda yang sudah ngasih bingkisan, akhirnya saya loloskan. Kalo nggak saya loloskan, anda (mungkin) muni-muni (dalam hati), jadinya nggak ridho. Akhirnya bingkisan tersebut sifatnya jadi tidak halal untuk dikonsumsi.

Dan saya masih bisa memberikan banyak ilustrasi yang lain lagi. Jadi jangan marah, ya kalo pemberian anda saya tolak. Hanya masalah timing aja, kok. Nothing personal.

Apa berarti Bu Dyah nggak pernah terima bingkisan? Pernah… pernah banget. Mulai dari bentuk kue, roti, ayam panggang, ikan asin (ikan asinnya enak banget, sumpah!!), sampe baju, kerudung, jilbab, dan asesoris.  Tapi biasanya status mahasiswa tersebut sudah bukan mahasiswa perwalian, pengampuan atau bimbingan saya. Jadi sudah khatam. Sudah selesai. Nggak ada hubungan dosen – mahasiswa lagi dengannya.

Gimana dengan dosen-dosen yang laen, Bu? Wah, kalo itu saya nggak tau. (Kalopun saya tau, saya ‘kan gak boleh buka kartunya orang laen…hehehe…)

BTW, jadi inget suatu ketika saya habis ngeluarin nilai, kemudian ada serombongan mahasiswa ngasih saya beberapa bungkus rujak di kampus buat dibawa pulang. Katanya sebagai ucapan terima kasih dan emang pengen aja ngasih saya (dan emang tau kalo saya sering beli rujak di depan sastra Undip). Terus saya nanya, emang saya kasih berapa, sih nilainya, kok sampe segitunya ngucapin terima kasih? Ternyata, ada yang dapet A, B bahkan C. Hehehe… kirain dapet A semua. Jadi terharu…hiks…

Comments (2)

KHS Sudah Dicetak (Tapi Belum Didistribusikan ke Dosen Wali)

Yah, sesuai judulnya… Jelas, ya bahwa sampai saat ini, sebagian besar KHS sudah dicetak. Tapi belum didistribusikan ke dosen wali. Malah khusus yang dosen walinya saya, belum tercetak sama sekali sampai tadi siang jam 13.00. Jadi kalo anda telpon ke TU, kemudian dibilangin bahwa KHS sudah jadi, emang bener KHS sudah jadi. Tapi sampai saat ini, saya belum terima. Malahan, tadi siang saya bela-belain ke TU dan mencoba sortir / pilih punya saya sendiri, ternyata tidak ada sama sekali. Sementara beberapa mahasiswa sudah mulai SMS saya menanyakan kapan bisa perwalian batal tambah. Teuteup aja, saya belum bisa kasih kepastian.

Kemudian, banyak KHS yang tidak tercetak nama dosen walinya. Bisa jadi sebagian adalah mahasiswa perwalian saya juga. Maka saya nanya ke Mbak Endang Wastuti, “Lho Mbak, kok gak ada nama dosen walinya?”

“Itu karena mahasiswanya tidak mencantumkan nama dosen walinya waktu perwalian. Khusus kelas sore / weekend, sistem akademis tidak langsung mencantumkan nama dosen wali. Harus berdasarkan pengisian KRS mahasiswa ybs.”

“Lha terus nanti gimana?”

“Ya, belakangan aja, Bu. Atau nanti mahasiswanya suruh ambil sendiri ke TU.”

Jadi, diinget-inget aja, kalo anda merasa bahwa kemaren anda tidak mencantumkan nama saya di bawah tandatangan saya, ya berarti kemungkinan anda harus ambil KHS sendiri di TU. Karena nanti yang didistribusikan ke dosen wali, adalah yang ada nama dosen walinya saja. Gitu…

Terus, ada cerita lucu lagi…

Seorang mahasiswa menelpon ke TU berkali-kali (mungkin sambil setengah kesel kali, ya?) Mengeluhkan bahwa saya sulit dihubungi, dsb, dsb… Cerita bahwa sudah SMS saya, malah saya suruh cek blog ini. Walhasil, saya ditanyai mbak-mbak di TU, sebetulnya bener gak sih, Bu Dyah itu susah perwaliannya? So, saya tunjukkan hasil perwalian saya untuk kelas sore / weekend pada hari itu, yang pada hari itu ada sekitar 40-an mahasiswa melakukan perwalian dengan saya. Kalo emang anda merasa bahwa saya susah dihubungi, kenapa yang 40-an orang mahasiswa itu gak kesulitan menghubungi saya?

Akhirnya malah diketawain orang banyak di TU. Apalagi pas nelpon, saya ada di sebelahnya mbak TU yang ngangkat telpon. Komentarnya seorang mbak TU, “Ya iyalah, mendingan ngecek Facebook daripada ngecek blog-nya Bu Dyah.” Wkwkwkwkwk………

Masih belum mudeng juga, ya? Saya bikin blog ini, biar anda gak kerepotan ke kampus. Tunggu info terkini dari saya di sini.  Cukup saya aja yang bolak balik ke kampus. Setiap ada berita penting yang berkaitan antara anda dan saya, saya tinggal publikasikan ke sini. Mau nanya apa aja, bisa lewat sini, ntar biar bisa kebaca sama temen-temen yang laen, yang mungkin punya pertanyaan yang sama dengan anda. Jadi saya juga gak repot mengulang  jawaban yang itu-itu terus…. cakwee, deeh…

Tinggalkan sebuah Komentar

Perwalian Kelas Sore / Weekend 13-3-09

Meskipun KHS masih belum jadi juga, perwalian yang sudah saya rencanakan tetep saya selenggarakan. Lho, Bu… katanya no KHS, no KRSan. Lha, daripada saya mengecewakan anda yang sudah terlanjur datang, ‘kan lebih baik saya ambil jalan tengah aja, to. (‘Kan daripada tinimbang, lebih baik aluwung. Toh, bukan andeng-andeng. Halah…)

Jalan tengah yang saya ambil, begini…

Semua yang melakukan perwalian tadi, saya berikan SKS minimum yaitu 18 SKS. Kalo anda merasa yakin bahwa nilai anda itu bakalan bagus, maka saya hanya bisa menyarankan, untuk tetep mengikuti perkuliahan sesuai dengan jumlah SKS yang anda perkirakan bisa ambil berdasarkan IP yang anda estimasikan. Jadi anda tetep bisa ikut perkuliahan sesuai jadwal, dan jumlah absensi anda memenuhi kuota persyaratan kehadiran.

Lha terus kekurangannya SKS gimana, Bu? Nanti, begitu KHS sudah bener2 jadi, saya akan informasikan perwalian batal / tambah di sini. Sehingga anda bisa nambah SKS lagi. Dan nama anda kemudian bisa dicantumkan di Daftar Absen / Daftar Peserta Kuliah (DPK).

Ilustrasinya begini…

Sekarang anda mengambil SKS minimum, yaitu: 18. Tapi anda yakin bahwa IP anda nantinya >3,00, berarti ada kemungkinan anda akan merencanakan mengambil SKS sejumlah maksimum, yaitu 24. Maka sekarang anda tetep mengikuti perkuliahan sejumlah 24 SKS. Anda bisa menggunakan kartu pos sebagai ganti absensi yang anda simpan sendiri, atau anda menulis sendiri di kertas dan diselipkan di DPK.

Apabila setelah KHS keluar, ternyata IP anda betul >3,00, anda bisa melakukan perwalian lagi dengan saya dan menambah SKS sejumlah 6 (kemungkinan 2 mata kuliah) yang kuliahnya sudah anda ikuti.

Tapi apabila IP anda hanya memungkinkan anda ambil SKS kurang dari 24, ya berarti nambahnya ya sesuai berapa jumlah SKS yang ditetapkan di KHS. Gitu…

Lha kalo IPnya ternyata <2,00 gimana, Bu? Ya, nggak usah nambah. Wong 18 SKS itu jumlah minimum, kok.

Jelas, ya?

Nah, sekarang pertanyaan berikutnya yang mungkin ada di benak anda: Kapan to Bu KHSnya keluar? Saya tidak bisa menjawab dengan pasti, karena itu di luar kewenangan saya untuk menjawab, tapi insyaAllah mudah2an sebelum tanggal 20 Maret 2009 KHS sudah keluar.

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »